REVIEW JOURNAL



Example Of Review Journal

Judul                          : Analisis Sektor Keuangan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Regional di Wilayah Jawa : Pendekatan Model Levine
Jurnal                               : Jurnal Etikonomi
Volume & Halaman         : Vol 11 No. 2
Tahun                               : 2 Oktober 2012
Penulis                             : Utami Baroroh, International Islamic University of Malaysia
Reviewer                         : Nilna Fauziyah, 7111417092
Tanggal                            : 21 April 2019
Tujuan Penelitian             : Untuk menganalisis pengaruh perkembangan keuangan terhadap pertumbuhan ekonomi regional di Wilayah Jawa, dengan menggunakan data ditingkat provinsi di Wilayah Jawa mulai dari periode 2005-2010
Subjek Penelitian             : Sektor keuangan
Latar Belakang                :
Sektor keuangan memegang peranan yang sangat penting dalam memicu pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Menurut Bank Dunia, sektor keuangan yang semakin berkembang diyakini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, menurunkan kemiskinan, dan meredam volatilitas ekonomi makro. Namun rekomendasi tersebut masih menimbulkan perdebatan baik secara teori maupun secara empiris. Ada dua hal pokok yang masih diperdebatkan terkait perkembangan sektor keuangan, pertumbuhan ekonomi dan volatilitas ekonomi makro. Pertama, perdebatan mengenai apakah perkembangan sektor keuangan yang mendorong pertumbuhan ekonomi (finance – led growth) atau pertumbuhan ekonomi yang mendorong perkembangan sektor keuangan (growth – led finance) (Levine, 1997; Patrick, 2000). Kedua, perdebatan mengenai hubungan antara perkembangan sektor keuangan dan volatilitas ekonomi makro. Perdebatan kedua terfokus pada permasalahan apakah sektor keuangan yang semakin berkembang akan menyebabkan volatilitas ekonomi makro.
Berbagai studi komparasi lintas negara serta analisis pada level industri dan perusahaan menyimpulkan bahwa sistem keuangan memainkan peran vital dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Literatur menunjukkan bahwa perkembangan sistem keuangan mempengaruhi tingkat tabungan, investasi, inovasi teknologi, dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang di suatu negara. Berbagai studi empirik bahkan membuktikan bahwa perkembangan sistem keuangan mampu memprediksi perkembangan ekonomi ke depan. Berbagai penelitian menyimpulkan bahwa negara-negara yang berhasil mengembangkan sistem keuangan yang relatif lebih maju dan berfungsi dengan baik adalah negara-negara yang kemudian menjadi pemimpin perekonomian dunia pada masanya. Peran vital sistem keuangan dalam pembangunan ekonomi muncul karena berbeda dengan kondisi ideal yang menjadi landasan teori ekonomi Neoklasik dalam realitas sehari-hari para pelaku ekonomi selalu dihadapkan pada biaya informasi dan biaya transaksi keuangan yang tinggi. Keberadaan dua jenis biaya tersebut mengakibatkan transaksi langsung antara pihak penabung/pemilik dana dan pihak yang membutuhkan dana tidak berjalan optimal. Akibatnya, berbagai kesempatan investasi dan konsumsi yang seharusnya dapat mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi menjadi tidak dapat direalisasikan.
Metode Penelitian           :
              Regresi dengan data panel. Pemilihan analisis data panel dilakukan karena beberapa kelebihan yang dimilikinya antara lain yaitu dapat memberikan data yang lebih informatif, mengurangi kolinearitas antar variabel, derajat kebebasan yang lebih banyak dan model yang lebih efisien (Baltagi, 2001 p:235). Data yang digunakan meliputi produk domestik regional bruto (PDRB), aset bank umum, dana pihak ketiga bank umum dan kredit yang disalurkan perbankan pada masing-masing provinsi di Pulau Jawa. Data dalam penelitian ini diambil dari berbagai sumber seperti laporan tahunan BI, Propinsi dalam angka, Statistik Perbankan Indonesia (SPI), dan Statistik Keuangan Pemerintah Daerah dan SEKDA (Statistik Ekonomi Keuangan Daerah).
Pembahasan                     :
Berdasarkan regresi model PLS, FEM dan REM serta uji model yang dilakukan seperti uji Chow dan Uji Hausman semua menunjukkan hasil model terbaik adalah model FEM. Hasil estimasi menunjukkan bahwa semua variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen. Variabel Aset berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi regional pulau Jawa dan memiliki hubungan positif dengan nilai koefisien adalah sebesar 0,34. Hal ini mengartikan bahwa apabila jumlah aset perbankan naik sebesar satu persen maka jumlah pertumbuhan ekonomi regional Pulau jawa akan meningkat pula sebesar 0,34 persen.
Variabel kredit juga menunjukkan pengaruh yang positif dengan nilai koefisien 0,072. Nilai koefisien menunjukkan bahwa apabila jumlah kredit perbankan naik sebesar satu persen maka jumlah pertumbuhan ekonomi regional Pulau Jawa akan meningkat sebesar 0,072 persen. Hasil ini konsisten dengan teori yang dikemukakan oleh Levine (1997), King and Levine (1993) dan Edward S.Shan (1973).
Untuk variabel Dana Pihak Ketiga (DPK) juga menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi regional Pulau Jawa tetapi berhubungan negatif. Nilai variabel dana pihak ketiga adalah 0,076 yang dapat diartikan bahwa bila terjadi penurunan dana pihak ketiga sebesar satu persen maka pertumbuhan ekonomi regional Pulau Jawa akan meningkat sebesar 0,076 persen. Hasil penelitian ini berbeda dengan teori yang ada dikarenakan kebijakan penempatan DPK turut memicu pertumbuhan DPK tetapi hal ini akan berkontribusi terhadap peningkatan tabungan valas yang dapat berakibat menurunkan pertumbuhan ekonomi.
Berdasarkan hasil olahan data juga menunjukkan bahwa variabel sektor finansial berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi regional Pulau Jawa secara bersama-sama pada tingkat kepercayaan 99%. Hal ini ditunjukkan dengan nilai probabilitas Uji F sebesar 0,000009. Sedangkan koefisien determinasi dalam penelitian ini adalah sebesar 0.718072 atau 71, 81%. Hal ini mengindikasikan bahwa variabel sektor finansial yang terdiri dari aset, kredit dan dana pihak ketiga mampu menjelaskan variabel pertumbuhan ekonomi regional di Pulau Jawa sebesar 71,81% dan sisanya sebesar 28,19% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan ke dalam model estimasi.
Berdasarkan perhitungan dapat terlihat bahwa masing-masing provinsi memiliki tingkat koefisien fixed effect yang berbeda-beda antara satu sama lain. Keadaan tersebut menjelaskan bahwa variable aset perbankan, kredit dan dana pihak ketiga memiliki tingkat pengaruh yang berbeda terhadap pertumbuhan ekonomi regional di masing-masing provinsi. Besar kecilnya nilai intersep tersebut memberikan gambaran mengenai daerah-daerah yang berpotensi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan hasil estimasi 3 provinsi dengan nilai intersep terbesar yaitu DKI Jakarta, Banten dan Jawa Timur dan 3 propinsi dengan nilai intersep terkecil yaitu Jawa Tengah, DIY dan Jawa Barat. Dengan demikian 3 propinsi terbesar tersebut merupakan daerah potensial pertumbuhan ekonomi sementara propinsi dengan intersep terkecil merupakan propinsi yang kurang potensial sebagai tujuan pertumbuhan.
Hasil yang didapat memperlihatkan nilai intersep pada propinsi Banten adalah 9,223383 yang dapat diartikan bila terdapat perubahan pada sektor finansial maupun waktu, maka Propinsi Banten akan mendapatkan pengaruh individu terhadap PDRB sebesar 9,223383%. DKI Jakarta sebagai pusat pemerintah sekaligus pusat bisnis mempunyai intersep sebesar 12,166233 dan tertinggi di Pulau Jawa. Hal ini semakin membuktikan bahwa propinsi DKI Jakarta memang pusat pertumbuhan ekonomi. Selain itu nilai intersep dapat ditafsirkan bahwa bila terjadi perubahan pada sektor finansial maupun waktu, maka propinsi DKI Jakarta akan mendapat pengaruh individu terhadap PDRB sebesar 12,166233%.
Hasil pengujian pada propinsi Jawa Barat menunjukkan nilai 6,290249 dan Jawa Barat termasuk daerah yang kurang potensial sebagai tujuan pertumbuhan. Propinsi Jawa Barat menjadi kurang kompetitif jika dibandingkan dengan propinsi Banten. Begitu pula dengan propinsi Jawa Tengah. Jawa Tengah adalah propinsi yang paling tidak potensial sebagai tujuan pertumbuhan bila dibandingkan dengan 5 propinsi lainnya. Pengaruh individu pada propinsi Jawa Tengah hanya sebesar 4,578999%.
            Propinsi DIY masih lebih baik bila dibandingkan dengan Jawa Tengah karena hasil dari efek individu berada di atas propinsi Jawa Tengah. Nilai intersep utuk provinsi DIY adalah sebesar 5,173155 persen sehingga jika terjadi perubahan sektor finansial maka propinsi DIY hanya akan mendapat pengaruh individu sebesar 5,173155 persen. Sedangkan Propinsi Jawa Timur termasuk dalam propinsi yang merupakan tujuan pertumbuhan ekonomi. Hal ini terlihat dari efek individu yang bernilai 7,033417 persen masih dibawah propinsi DKI Jakarta dan Banten.
Kelebihan                        : Dalam penelitian tersebut sudah dijelaskan landasan teori yang cukup lengkap dari berbagai penelitian oleh ilmuwan ekonomi terdahulu hingga masa sekarang. Model regresi yang digunakan cukup banyak sehingga dapat diperoleh hasil penelitian yang beragam dan dapat lebih akurat. Hasil dari pnelitian dijelaskan lebih rinci sesuai dengan hasil perhitungannya sehingga dapat membuktikan tingkat keakuratan hasil penelitian tersebut. Data yang diperoleh untuk bahan penelitian berasal dari sumber yang terpercaya. Adanya perbandingan antara berbagai model penelitian yang digunakan, sehingga dapat terlihat secara jelas mana model penelitian yang paling baik untuk digunakan. Serta dijelaskan hasil dari 5 provinsi di pulau jawa yang menjadi perbandingan bagaimana sektor keuangan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi regional sehingga dapat diketahui dengan jelas mana provinsi yang paling berpengaruh dan sedikit pengaruhnya.
Kekurangan                     : Dalam metode penelitian tersebut tidak dijelaskan bagaimana proses pengukuran yang dicapai dalam mendapatkan hasil penelitian. Karena semua hasil dari variabel sudah disebutkan secara langsung hasilnya tanpa disebutkan perhitungannya.
Kesimpulan                      :
Variabel aset perbankan, kredit perbankan dan dana pihak ketiga secara parsial sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi regional di Pulau Jawa dan hal ini sesuai dengan teori yang ada dan penelitian yang banyak dilakukan diantaranya oleh Levine (1997), Erdogen, Esen and Umit Ozlaze (2005). Variabel aset dan kredit menunjukkan hubungan positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Hal ini menandakan kuatnya pengaruh bank terhadap aktivitas perekonomian dan mengindikasikan kredit yang tersalur terwujud dalam akumulasi modal fisik. Untuk variabel dana pihak ketiga menunjukkan hubungan negatif yang berarti terjadinya pengalihan dana dari pelaku ekonomi. Terintegrasinya pasar modal dan pasar perbankan menyebabkan pelaku ekonomi bebas melakukan pengalihan dana sehingga dana yang terhimpun tidak terwujud dalam akumulasi modal fisik atau investasi. Hasil estimasi menunjukkan bahwa propinsi DKI Jakarta, Banten dan Jawa Timur merupakan daerah yang berpotensi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi.


Komentar