POSTINGAN ESSAY (KIME FE UNNES)




JUDUL ESSAY

PENINGKATAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT SEKITAR MELALUI PENGEMBANGAN EDUWISATA MUSEUM PURBAKALA DI DESA SEMEDO KECAMATAN KEDUNGBANTENG KABUPATEN TEGAL


DISUSUN OLEH :

NILNA FAUZIYAH             7111417092




UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
SEMARANG
2017







LATAR BELAKANG
Semedo adalah salah satu desa yang terletak di Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, berada pada bentang lahan pegunungan bergelombang yang merupakan jajaran Pegunungan Serayu Utara bagian barat dan berbatasan dengan jajaran Pegunungan Bogor. Batas wilayah sebelah utara adalah Desa Sigentong, Kecamatan Warureja, batas selatan adalah wilayah hutan, batas sebelah timur adalah Desa Sidamulya, Kecamatan Warureja, dan batas sebelah barat adalah Desa Karang Malang, Kecamatan Kedung Banteng. Penduduk Desa Semedo mempunyai aneka macam mata pencaharian, namun mereka pada umumnya memiliki aktivitas di bidang pertanian. . Letak desa Semedo yang jauh dari perkotaan dan kondisi tanah yang cukup subur, wajar jika sebagian besar memilih pertanian sebagai pemenuhan kebutuhan hidupnya. Sehingga data disimpulkan bahwa kebanyakan dari mereka merupakan warga dengan penghasilan golongan menengah kebawah karena mereka hanya menitikberatkan pada penghasilan pertanian. Namun pada belakangan ini (mulai 2005) , Semedo mulai banyak dilirik oleh para peneliti Indonesia seperti dari Balai Arkeologi Yogyakarta sendiri (mulai 2005), Museum Sangiran (mulai 2005), Museum Geologi Bandung (2014) dan Institut Teknologi Bandung (mulai 2014) dikarenakan adanya penemuan berupa fosil – fosil hewan dan bahkan manusia purba di sekitar lahan-lahan warga desa Semedo. Hal ini dapat memicu dibukanya wisata edukasi berupa situs Semoda yang nantinya dapat juga meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat sekitar.

PEMBAHASAN :
SELAYANG PANDANG EDUWISATA SITUS SEMEDO
Situs Semedo mulai dikenal sejak tahun 2005 setelah terjadi erosi akibat terbentuknya lahan situs yang semula tertutup oleh vegetasi hutan gunung jati. Situs ini berada diarea milik PT. Perhutani yang secara administratif terletak di Desa Semedo, Kec. Kedungbanteng , Kab. Tegal, Provinsi Jawa Tengah. Penelitian di situs semedo mulai dilakukan oleh Balai Arkeologi Yogyakarta bersama Dinas Pendidikan dan kebudayaan Kabupaten Tegal, pada tahun 2005 (Widianto dan Hidayat, 2006). Dari beberapa hasil fosil yang telah ditemukan oleh pak Dakri (narasumber di situs Semedo) dapat berupa gajah purba (Elephas, Stegodon, dan Mastodon/Sinomastodon bumiajuensis), kerbau purba (Bubalus palaeokerabau), banteng purba (Bos palaeosondaicus), kura-kura (Testudo sp. dan Trionyx sp.), buaya (Crocodilus sp.), harimau (Panthera sp.), serigala (Canis sp.), hyaena (Hyaena sp.), dan rusa (Cervus hippelaphus) dan akhirnya pada bulan Mei tahun 2011 ditemukan fragmen atap tengkorak manusia purba yang berdasarkan analisis widianto termasuk dalam anggota kelompok Homo erectus tipe klasik yang berumur sekitar 0,7 juta tahun yang lalu .
Berdasarkan penemuan fosil – fosil ini maka lengkaplah situs semedo sebagai salah satu situs Hominid di Jawa Tengah dengan jejak budaya dan lingkungan purbaya.   Dari sekian banyaknya fosil yang telah ditemukan , semua itu dikumpulkan dalam sebuah museum yang masih sangat sederhana karena tempatnya pun masih terbuka sehingga sangat rawan sekali terjadinya pencurian terhadap fosil – fosil tersebut. Memang sudah seharusnya museum tersebut di perluas lagi agar dapat meningkatkan wisatawan dan peneliti  serta menciptakan Situs Semedo sebagai Desa Eduwisata. Berkat kegigihan dari berbagai pihak, kini Situs Semedo tengah berada dalam rencana pengembangan lanjut. Mulai dari tahun 2015 pembangunan Museum Semedo yang lebih layak mulai dijalankan , dengan melihat jumlah pengunjung sebanyak lebih kurang 50 orang per hari, dengan dibangunnya Museum yang lebih megah tentu akan menambah daya tarik masyarakat dari berbagai kalangan. Desain masterplan, pembebasan lahan, serta hal-hal teknis dan administratif harus dipersiapkan secara matang. Lahan sebesar dua hektar juga telah dipersiapkan. Apabila sesuai rencana, maka lahan seluas satu hektar akan digunakan sebagai lahan parkir, sementara satu hektar lain akan dibangun menjadi museum, dilengkapi dengan penginapan yang dikhususkan untuk peneliti dan mahasiswa yang ingin mendalami disiplin ilmu Kuarter daerah Semedo. Semua ini tidak terlepas dari perhatian dari berbagai pihak, terutama Bapak Dakri, yang selalu menekankan agar dibangunnya pondokan atau penginapan khusus peneliti agar lebih memperlancar studi diSemedo. Selain bangunan inti, kondisi jalan yang rusak parah juga perlu dibenahi agar dapat mempermudah akses wisatawan dalam mengunjungi museum ini.
Untuk itu, juga perlu dilakukan suatu tindak lanjut agar mampu berdampak positif terhadap masyarakat. Rencananya, penduduk di sekitar akan dilibatkan dalam kegiatan pengembangan jasa dari bidang usaha ekonomi kreatif dan ekonomi kecil-menengah. Salah satunya adalah dengan mendorong kreativitas masyarakat untuk mengembangkan masakan khas tradisional Semedo, kesenian wayang, souvenir, jasa transportasi, hingga wahana hiburan seperti taman bermain anak-anak. Sehingga museum Semedo tersebut dapat menarik perhatian para pengunjung dilihat dari fasilitasnya seperti yang ada pada Situs Sangiran dan dapat mengangkat perekonomian masyarakat sekitar melalui usaha – usaha yang nantinya akan dikembangkan. Dan pemerintah juga dapat mensosialisasikan kepada lembaga pendidikan mulai dari jenjang TK , SD , SMP , dan SMA / sederajat khususnya diwilayah Tegal dan sekitarnya untuk mengunjungi Eduwisata Museum Purbakala Semedo.



KESIMPULAN

Dengan ditemukannya fosil – fosil hewan – hewan purba dan tengkorak manusia (Homo Erectus) dapat memberikan dampak yang positif bagi wilayah tegal sendiri khususnya di desa Semedo yaitu dapat menambah Wisata Edukasi  terbaru yaitu Museum Purbakala Semedo yang diharapkan dapat diperbaiki lagi semua fasilitasnya agar dapat meningkatkan jumlah para pengunjung serta peneliti  sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar dengan menerapkan beberapa usaha tersebut. Serta tidak terbentuknya kesenjangan sosial antara masyarakat dengan pihak museum. Museum dapat menjadi alternatif yang cukup menarik sebagai wahana hiburan sekaligus edukasi yang bernilai tinggi. Karena hanya di dalam museum lah, kita mampu belajar dari sejarah, mengambil kearifan dari masa lampau, serta mengamalkannya ke dalam kehidupan kini. Tak hanya pihak pemerintah, masyarakat secara umum juga sepatutnya mengambil peran dan tanggung jawab terhadap perkembangan dan kelestarian museum.Melalui rencana pengembangan Museum Situs Semedo,.

DAFTAR PUSTAKA
S Noerwidi, S Siswanto , H Widianto - Berkala Arkeologi , 2016  - berkalaarkeologi.kemdikbud.go.id http://berkalaarkeologi.kemdikbud.go.id/index.php/berkalaarkeologi/article/view/96





Komentar